Sejak awal memasuki semester 5
tepatnya 2 bulan yang lalu saya sudah penasaran dengan bagaimana bentuk dan isi
naskah-naskah kuno, hingga pada hari Selasa, 22 Oktober 2019 sekitar pukul
08:30 WITA saya bersama teman-teman (Aida, Aluh, dan Herlin) berkumpul di Jalan
Gomong Sakura 4, Gang 6, Mataram untuk melakukan perjalanan mencari naskah kuno
di Desa Ketara, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah yang sebelumnya sudah kami cari
tahu keberadaannya karena teman saya-Aluh memiiliki hubungan darah dengan salah
satu tokoh adat NTB yang memiliki naskah kuno dan benda-benda pusaka.
Di perjalanan menuju Loteng, ada beberapa kejadian di
luar skenario, yaitu saat di tengah jalan tanpa sadar botol minuman tupp*rwar*
saya terjatuh dari tas saya, sehingga saya dan Aida berhenti untuk memungutnya
dan terpisahlah kami dengan Aluh dan Herlin. Tanpa diduga, saya dan Aida yang
terlebih dahulu sampai pada tempat tujuan karena ternyata Aluh dan Herlin
mampir mengisi bensin. Kami menghabiskaan waktu hingga 55 menit untuk sampai
tempat tujuan.
Tiba di Loteng, lebih tepatnya di
Kantor Desa Ketara, kami langsung disambut dengan hangat oleh Bapak Sekretaris
Desa Lalu Mustaan selaku penggiat naskah
dan kedua orang tua Aluh. Kami dituntun ke ruang tamu kantor desa dan langsung
disuguhkan dengan naskah kuno yang berjudul Jabalkab, naskah ini terbuat dari
daun lontar, terlihat usang karena termakan usia, dan tertulis dengan bahasa Kawi.
Kami tidak melakukan ritual apapun untuk memulai membaca naskah tersebut,
karena dari pagi sebelum berangkat kami sudah mengamankan diri dengan berdzikir
kepada Allah SWT agar dilindungi.
Yang diceritakan dalam kitab asrat
lontar ini adalah tentang Datu Jayang Rane dan Datu Prabu Asrat.
Jalbalkab merupakan nama sebuah desa, dan Datu Prabu
Asrat merupakan raja di desa tersebut sehingga ia dikenal dengan sebutan Datu
Jabalkab. Suatu ketika, datang raksasa di desa Jabalkab dan ia ingin
menguasai desa tersebut, tentu Datu Jabalkab tidak terima dan melawan raksasa
tersebut sehingga terjadilah peperangan. Tapi, Datu Jabalkab beserta
prajuritnya tidak kuasa melawan raksasa karena bau amis yang berasal dari tubuh
raksasa, bukan karena tidak mampu atau benar-benar kalah secara harfiah dalam
berperang melawan raksasa. Kemudian Datu Jabalkab membawa keluarga beserta
rakyatnya untuk mengungsi ke atas gunung sebab istananya sudah dipenuhi oleh
raksasa. Sampai di tempat pengungsian, Datu Jabalkab bertanya pada rakyatnya
"Kira-kira siapa yang bisa menolong kita dengan persoalan peperangan yang
tidak bisa kita lawan ini?” salah satu rakyatpun menjawab "Yang dapat menolong
kita untuk melawan raksasa tersebut adalah putra dari Arya Abdul Mutalliib yang
bernama Jayang Rane yang berada di Mekah." kemudian Datu Jabalkab mengutus
anaknya yang bernama Rada Saktir untuk menjemput Jayang Rane di Mekah.
Singkat cerita, Rada Saktir berhasil menjemput Jayang Rane. Tapi, sebelum
Jayang Rane dibawa oleh Rada Saktir, ayah Jayang Rane memberitahu Rada Saktir
bahwa Jayang Rane mampu mengalahkan raksasa hanya dalam waktu 3 hari
saja. Tapi, pada kenyataanya Jayang Rane berhasil mengalahkan raksasa selama 30
tahun lamanya. Begitulah sepenggal cerita dari naskah Jabalkab.
Mamiq Mustaan tidak bisa menceritakan seluruh naskah
Jabalkab pada kami karena keterbatasan waktu, bahkan beliau mengatakan
"Seperempat saja, semalaman tidak bisa habis diceritakan." maksudnya
dalam waktu semalaman, jikalau naskah ini diceritakan tidak bisa selesai, butuh
waktu berhari-hari, saking tebalnya.
Nilai-nilai yang terkandung
dalam naskah ini adalah kita tidak boleh menjadi orang yang terlalu percaya
diri sehingga melupakan Tuhan, kita harus tetap rendah hati dengan kelebihan
maupun kekurangan yang kita miliki karena itu semua atas kehendak Tuhan.
Adapun pentingnya naskah ini bagi
masyarakat sekitar adalah dijadikan sebagai pedoman hidupnya dari zaman dahulu
hingga kini. Naskah ini juga menambah wawasan kita tentang budaya Sasak,
kebiasaan orang Sasak, juga menambah ilmu pengetahuan kita di bidang agama
sehingga kita tau bagaimana cara berbusana yang sopan, bertata krama, dan
berakhlak mulia, serta menambah ilmu pengetahuan kita dalam bidang pemerintahan
maksudnya tentang bagaimaana cara berpolitik yang baik dan benar.
Selain naskah Jabalkab, Mamiq
Mustaan juga memiliki naskah-naskah kuno lainnya, di antaranya naskah Serat
Bandar Sile, naskah Bangbarit, naskah Rengganis, naskah Jati Sware, naskah
Puspakrema dan naskah Dulang Mas. Beliau juga memiliiki benda-benda pusaka
lainnya seperti keris. Tapi, benda tersebut tidak bisa diperlihatkan begitu
saja karena sangat sakral.



Mantap vrooohhh
BalasHapusSangat menarik👍
BalasHapusmantap jiwa
BalasHapusIlmu baru. Terima kasih kak
BalasHapusLain kali ajak saya dong kaka,saya juga pengen dong liat naskah kuno😊
BalasHapusSudah saya ajak yang namanya Herlin teman saya kak, tapi kalau Herlin_ruby memang belum saya ajak.
HapusTinggalin kontak aja kak, biar bisa saya hubungin kalau mau pergi lagi besok.
Terimakasih atas ilmunya
BalasHapusBagus, bermanfaat sekali ilmunya
BalasHapusLuar biasa 👍
BalasHapusMantap nun😊
BalasHapusSemoga penulis tidak sampai disini menulis artikel. Karena artikel ini cukup bagus dan perlu dikembangkan. Semangattt.
BalasHapusBagus sangat bermanfaat.
BalasHapusSemangat terus berbagi ilmunya kak
BalasHapusBagus kak, izin share ya
BalasHapusBagus kak, izin share ya
BalasHapusMantap. Cerita nya sangat terinspirasi. Sukses selalu ainun dan kawan"
BalasHapus