Sebelumnya saya telah
menceritakan sepenggal tentang naskah kuno Jabalkab dan perjalanan saya
mencarinya, kali ini saya kembali untuk menceritakan sepenggal pengalaman saya
saat nyeput.
Sejak diceritakan oleh seseorang
tentang keseruan dan kemagisan nyeput, saya jadi penasaran dan tertarik ingin
mencoba juga. Sehingga pada (11/11) saya kembali mengunjugi tokoh adat yaitu
Pak Syahdin dan Pak Hasan di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah
untuk mengenali dan merasakan nyeput.
Jadi, dari hasil perjalanan yang saya lakukan bersama
teman-teman, saya mengetahui bahwa nyeput atau bejeput
merupakan kegiatan mengambil atau memilih sendiri lembaran lontar yang akan
dibacakan oleh pemaos untuk kemudian diartikan dan dijadikan sebagai ramalan
untuk nasib ke depannya. Menurut kepercayaan masyarakat memang apa yang
diramalkan benar terjadi. Namun, semuanya tergantung keyakinan sendiri.
Nyeput dilakukan dengan
cara mengambil salah satu daun lontar dalam tengkapan naskah kuno atau membuka
fotokopian naskah kuno dan menunjuk salah satu kalimat di halaman yang sudah di
buka sambil menutup mata. Setelah kita memilih satu, pemaos a.k.a Pak Syahdin
mulai mengelompokkan termaksud tembang apa lembaran daun lontar yang dipilih
atau kalimat yang ditunjuk, baru kemudian ditembangkan perpupuh, dan diikuti oleh
Pak Hasan yang mengartikannya hingga akhir kalimat. Selanjutnya, dari arti yang
telah dibacakan dikaitkan dengan
kehidupan kita.
Ada beberapa persyaratan yang harus dibawa untuk melakukan ritual nyeput.
Ada beberapa persyaratan yang harus dibawa untuk melakukan ritual nyeput.
Sembari menunggu giliran, kami rata-rata
merasakan panas dingin, karena takut akan diramal mengenai nasib buruk. Tapi,
kami meyakinkan diri untuk tidak boleh terlalu percaya karena bagaimanapun
tidak ada yang bisa mendahului takdir Tuhan.
Saat
giliran saya, sama seperti yang lain, saya disuruh memilih ingin nyeput dengan
tangkepan Juarsyah atau dengan naskah Rengganis yang tertuang dalam fotokopian.
Saya lebih memilih naskah Rengganis, dan berdasarkan kalimat yang saya tunjuk
dikelompokkan sebagai tembang asmarandana. Sepenggal arti dari naskah yang saya
pilih berbunyi "suatu ketika ratu mendatangi taman yang sangat indah, tapi
saat ia kembali lagi, bunga-bunga pada taman tersebut sudah layu dan rusak."
kemudian arti ini dikaitkan dengan kehidupan saya, intinya Pak Hasan mengatakan
"jangan terlalu mudah percaya dengan orang, terutama dengan perkataan laki-laki."
Metode yang digunakan untuk
menganalisis proses nyeput adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik
adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan
tujuan tertentu kepada pembaca. Walaupun di sini saya bukan sebagai pembaca
langsung, tapi pemaos atau pembaca dan penerjemahan dapat memberitahukan kepada saya arti atau
tujuan tertentu dari kalimat yang telah saya pilih.
Semoga
pesan singkat dari Pak Hasan dan Pak Syahdin juga dapat diterapkan oleh
teman-teman pembaca untuk tidak terlalu mudah
percaya dengan orang,
terutama dengan perkataan laki-laki.
Pada penasaran dan ingin mencoba untuk
nyeput? Ayok ke Lombok dan pelajari budaya serta tradisinya yang sangat kaya.

